Berita & Info

Berita & Info

Mengatur Pola Hidup Sehat Anak Di Era High Tech

PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini, penggunaan multimedia khususnya media elektronik sudah sangat luas dinikmati oleh seluruh kalangan sosioekonomi dan juga berbagai tingkat usia. Setiap harinya kita dapat melihat banyak orang sedang menikmati kemajuan tekhnologi ini mulai dari televisi di rumah, penggunaan ponsel pribadi yang selalu setia menemani untuk sekedar menelfon, mendengarkan lagu, berkirim pesan hingga bermain game sampai penggunaan komputer jinjing yang lebih dikenal dengan “tablet” yang sudah sangat jamak. Berbagai produsen multimedia ini juga saling berlomba untuk selalu menyuguhkan fitur-fitur terbaru dan tercanggih yang dapat membantu kita mengakses informasi yang dibutuhkan serta meringankan pekerjaan. Untuk melengkapi fitur terbaik dan mencakup semua tingkat usia, produsen media elektronik telah bertahun-tahun membuat program yang ditujukan untuk bayi dan anak seperti perangkat belajar hingga video game.

Kemajuan tekhnologi ini mempunyai dampak yang baik dan buruk tentunya terutama bagi anak-anak yang sedang mengalami masa tumbuh kembang, melewati masa emas dalam hidupnya. Dalam masa-masa tumbuh kembang ini, orangtua bersaing dengan produsen media elektronik yang sangat bekerja keras dalam membuat program baru yang dikhususkan untuk anak dengan iming-iming dapat mencerdaskan anak. Orangtua mempunyai pekerjaan berat dalam mendampingi anak-anak ini harus bekerja sama dengan pihak sekolah, dan praktisi kesehatan untuk dapat mendampingi anak dalam menggunakan media elektronik agar anak-anak generasi penerus kita tetap menjadi generasi yang sehat dan bermutu.

 

 

DEFINISI

Dalam Ilmu Kesehatan Anak, anak didefinisikan sebagai manusia yang berusia 0 hingga 18 tahun dan mengalami masa tumbuh kembang. Masa anak dapat dibagi lagi menjadi 4, yaitu 1. Bayi baru lahir / newborn, usia 0 – 28 hari, 2. Bayi dan toddler, usia 28 hari hingga 23 bulan, 3. Anak, usia 2-11 tahun termasuk di dalamnya masa pubertas awal dan 4. Remaja / adolescent, usia 12-18 tahun. Pembagian definisi sesuai umur di atas tentunya mempunyai arti tertentu dalam masa tumbuh kembang termasuk berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang tersebut termasuk di dalamnya faktor makanan dan gizi serta gangguan kesehatan.

Kata multimedia terdiri dari dua kata yaitu multi yang berarti beberapa, sedangkan media artinya perantara. Namun secara lengkap, multimedia dapat didefinikan sebagai penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Sedangkan jenis media ada banyak sekali sekitar 12 jenis dan diantaranya adalah media elektronik yang menggunakan berbagai macam jenis alat elektronik mulai dari komputer, ponsel hingga tablet.

 

INTERAKSI ANAK DENGAN MEDIA ELEKTRONIK 

Di era high tech ini, penggunaan media elektronik sudah merupakan pemandangan yang sangat lazim di manapun kita berada hingga generasi anak-anak kita sekarang ini pun dinamani “generasi high tech”. Jika tidak mengenal atau tidak dapat menggunakan alat-alat media elektronik tersebut, maka sudah dijamin anak-anak kita tidak dapat mengikuti perkembangan jaman, pengetahuan serta sosialisasi. Namun sampai dimanakah penggunakan media elektronik ini aman bagi anak?

Penggunaan media elektronik atau yang lebih dikenal dengan “gadget” sudah menjadi gaya hidup orang-orang di perkotaan. Sudah pasti penggunakan gadget mempunyai banyak kegunaan bagi kita semua, seperti alat untuk bermain game, menonton video, mengambil foto, juga sebagai tempat penyimpanan informasi, sebagai alarm pengingat meeting, janji, waktu sholat, sebagai alat pencari informasi apapun bila terhubung dengan internet dan juga sebagai media komunikasi dengan bermacam-macam pilihan. Kegunaan gadget ini tentunya berbeda sesuai dengan umur perkembangan anak. Orangtua dan teman sebaya pun menjadi panutan anak dalam menggunakan gadget, tidak sedikit dari orang tua yang memberikan gadget bagi anaknya sebagai hadiah bahkan banyak juga dari orangtua yang memberikan gadget ke bayinya.

 

Bayi dan Toddler

Orangtua biasa memberikan gadget untuk dipergunakan oleh bayi dan toddler untuk menonton video kesukaan ataupun bermain baby game yang programnya dengan mudah dapat diunduh melalui internet. Hal ini dilakukan orangtua agak bayi dan toddlernya dapat “diam”, tidak rewel, tidak mencari aktifitas lain dan terutama tidak mengganggu lingkungan serta pekerjaan orangtua. Hal ini terutama dilakukan oleh ibu yang tidak mempunyai asisten rumah tangga ataupun mempunyai anak lebih dari satu.

Di Amerika pada tahun 2011, dilaporkan 90% anak di bawah 2 tahun sudah menonton melalui berbagai jenis media elektronik selama 1-2 jam per hari dan maksimal 4 jam per hari. Kegiatan ini merupakan pilihan yang diambil orangtua dengan alasan  sebagai kegiatan yang paling tidak membahayakan. Padahal anak seusia ini belum dapat mencerna dengan baik dari program yang disajikan. Stimulasi yang paling bermakna adalah mengajak anak bermain, berbicara karena kemampuan kognitif anak di bawah umur 2 tahun adalah melalui “live presentation”. Bahkan menurut penelitian, bayi umur 4 bulan yang dibiarkan main sendiri tanpa gadget, akan merangsang kreatifitas dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Pembiaran penggunaan gadget di usia dini ini selain akan mempengaruhi kesehatan fisik, juga akan memperngaruhi perkembangan seperti kekurangan perbendaharaan verbal, gangguan perhatian, gangguan aggresivitas dan keterlambatan bicara. Pemberian gadget di bawah usia 2 tahun tidak memberikan peningkatan kemampuan kognitif di kemudian hari.

 

Anak

Dengan bertambahnya kemampuan kognitif anak di atas usia 2 tahun, maka pemakaian gadget akan lebih bermakna. Penggunaan gadget di sekolah-sekolah sudah menjadi keseharian sebagai alat pembantu proses belajar mengajar dengan berbagai tingkatan dan kegunaan, bahkan dengan menurut riset pada tahun 2012, keberadaan tablets sudah mulai menggantikan penggunaan buku teks pelajaran.

Di tingkat playgroup, gadget digunakan untuk menunjukkan gambar, bermain warna, membacakan cerita serta menonton film. Sedangkan di tingkat taman kanak-kanak, gadget digunakan untuk belajar menulis, mengeja dan membaca sederhana. Di tingkat sekolah dasar, penggunaan gadget sudah lebih maju. Guru sudah mulai menggunakan media sosial seperti twitter atau messanger untuk mengingatkan pekerjaan rumah, schedule atau bahkan hanya sekedar menyapa muridnya. Murid sekolah dasar juga sudah diperkenalkan bagaimana cara mencari informasi cepat melalui internet, mengerjakan tugas di komputer hingga membuat dan melakukan presentasi dengan gadget.

Dengan bertambahnya kemampuan kognitif dan kebutuhan akan gadget ini, pada tahun 2012 dilaporkan hasil penelitian terhadap 1300 anak usia 29 bulan hingga kelas 4 sekolah dasar, yaitu rata-rata mereka menghabiskan waktu lebih dari 7 jam sehari dalam menggunakan gadget.

Problem yang dapat ditimbulkan dari kemajuan tekhnologi ini adalah gangguan perhatian, penurunan nilai akademis, aggresivitas serta penyalahgunaan gadget oleh oknum-oknum tertentu dan menjadikan anak sebagai korbannya, salah satu contohnya adalah pedophilia.

 

Remaja

Lain halnya dengan bayi dan anak, remaja tentunya mempunyai masalah yang lebih kompleks karena mereka sudah sangat familiar dan sangat mahir dalam penggunaan gadget dan hampir seluruh remaja juga sudah memiliki gadget pribadi dengan berbagai ragam jenis dan kecanggihan.

Hasil survey di Amerika tahun 2010, 93% remaja usia 12-17 tahun selalu “on line” dan 71%nya melakukannya melalui ponsel pribadinya. 57% menggunakan gadget untuk menonton video, 65% membuat akun pribadi facebook dan myspace, 38% melakukan belanja online dan hanya 28% yang menggunakan gadget untuk mencari informasi kesehatan. Dari koresponden ini, paling banyak menggunakan gadgetnya untuk bermain game sekitar 97%.

Keberadaan media elektronik menjadi sangat penting untuk mencari sumber informasi namun banyak juga informasi yang salah beredar melalui internet atau pengertian yang salah tentang informasi yang didapat juga sering terjadi, inilah yang disebut misinformasi. Internet juga merupakan media terbaik untuk iklan dan remaja dapat dikatakan cukup mudah terpengaruh iklan.

Masalah yang sering terjadi adalah lebih dari 90% media interaktif yang beredar mengandung kekerasan ditujukan untuk anak usia 10 tahun ke atas. Hal ini dapat menyebabkan remaja lebih stress dan ketakutan juga lebih aggresif sehingga memicu terjadinya tawuran. Yang tak kalah pentingnya adalah masalah seksual pada remaja. Dari 1500 remaja usia 10-17 tahun, lebih dari 50%nya sudah terekspos oleh on-line pornografi. Akun pribadi juga memudahkan remaja menerima dan mengirim pesan seks . Dari hasil survei anak remaja usia 13-19 tahun didapatkan 20% pernah mengirimkan sexting serta 48%nya menerima sexting. Tidak jarang pula kita lihat video-video yang sengaja diupload oleh oknum yang memperlihatkan remaja mencoba beradegan seks di sekolah, warnet, atau bahkan di rumah.

Alkohol, rokok dan penyalahgunaan obat atau narkoba juga menjadi masalah pada remaja. Jika kita perhatian, setiap 21 menit tayangan di TV selalu memperlihatkan orang merokok, minum ataupun menggunakan narkoba. Hal ini membuat pola yang tertanam di otak para remaja dan membuat timbulnya rasa ingin memiliki dan mencoba. Remaja sangat pintar dalam mengetahui kode-kode sandi yang dibuat oleh penjual, sehingga mereka dengan mudah mendapatkan barang-barang ini melalui belanja on-line.

 

EFEK MEDIA ELEKTRONIK TERHADAP KESEHATAN FISIK

Selain mempengaruhi perkembangan pada anak, efek penggunaan gadget yang yang lama dan terus menerus juga dapat menimbulkan masalah pada fisik terutama pada anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan yang sangat krusial. Efek yang ditimbulkan ini dapat mengenai beberapa organ tubuh dan efek jangka panjangnya dapat menimbulkan penyakit menahun yang timbul secara dini pada usia dewasa muda. Beberapa efek yang paling sering ditimbulkan dapat mengenai penglihatan, pendengaran, kekakuan otot dan nyeri tulang, obesitas dan kelainan pola makan, asma serta penyakit kulit.

 

1. Penglihatan

Gadget dapat mengganggu penglihatan kita apabila kita terlalu lama menatap layar ponsel, tablet, komputer, televisi karena kita terlalu focus terutama saat membaca sesuatu saat chatting, mencari informasi atau bermain game. Hal ini dapat menyebabkan mata kita jarang berkedip sehingga mata menjadi lelah dan lebih kering. Keadaan ini disebut Computer Vision Syndrome, dimana dalam keadaan normal mata kita berkedip 20-25x dalam tiap menitnya sementara apabila sedang menatap layar gadget, mata kita hanya berkedip 6-8 kali. Infeksi dapat mudah menyerang mata yang sedang dalam keadaan demikian, selain itu pemakaian gadget yang cukup lama setiap harinya sejak usia dini juga dapat menyebabkan percepatan timbulnya rabun jauh

Cobalah untuk selalu menggunakan gadget di tempat dengan penerangan cahaya yang cukup, dengan durasi paling lama 15 menit setiap sesinya, sedangkan untuk anak disarankan maksimal 30 menit sehari apabila mereka ingin bermain game dengan gadgetnya. Bila anak membutuhkan waktu lebih untuk menggunakan gadget, disarankan memakai rule 20-20, yaitu istirahat selama 20 detik setelah pemakaian selama 20 menit. Jarak antara layar komputer dengan mata sebaiknya 40-50cm, sedangkan jarak antara gadget dengan mata antara 32-36cm dengan posisi 150 ke arah bawah.

Tahun 2009 prevalensi anak Amerika usia 8-18 tahun yang menderita rabun jauh telah mencapai 59,8%, prevalensi yang cukup tinggi ini dikaitkan dengan terlalu seringnya otot-otot mata selalu dalam keadaan tegang dalam menggunakan gadget. Hal yang lebih memberatkan adalah anak-anak sangat mudah menyesuaikan diri dan lebih dari 20% mereka tidak mengetahui adanya gangguan penglihatan karena mereka pikir penglihatan seperti itu adalah normal. Oleh karenanya disarankan untuk memeriksakan mata anak secara rutin pada usia 1 tahun, 3 tahun dan usia 5 tahun atau minimal pada saat anak akan memasuki sekolah dasar. 

Fungsi penglihatan juga sangat bergantung pada nutrisi dan oksigen yang disuplai melalui arteri-arteri kecil. Oleh karena itu diperlukan nutrisi yang baik bagi arteri tersebut selain nutrisi untuk mata kita. Diantaranya adalah zat lutein dan zeaxanthin untuk mencegah adanya degenerasi mata kita yang banyak terdapat pada sayuran hijau, telur dan jagung. Omega-3 yang juga berfungsi mengurangi risiko penyakit mata, terdapat pada salmon, tuna, sardin dan halibut. Selain itu buah yang mempunyai anti oksidan tinggi seperti jeruk, peach, tomat, strawberry dan lemon juga sangat dibutuhkan bagi kesehatan mata agar berfungsi dengan baik. Zinc (seng) yang terdapat pada kacang-kacangan, kerang, daging merah tanpa lemak, ayam dan sereal melindungi mata dari kerusakan akibat paparan cahaya yang berlebihan.

Dari semua makanan yang hingga saat ini dianggap sangat baik bagi kesehatan mata adalah wortel. Wortel dianggap demikian karena mengandung beta karoten tinggi yang membantu penglihatan di saat malam.

 

2. Pendengaran

Pendengaran juga dapat mengalami gangguan apabila anak sering menggunakan headphones  dengan volume yang cukup keras. Hampir semua gadget menyediakan saluran untuk headphones agar dapat dinikmati oleh pemilik secara privasi tanpa mengganggu lingkungan sekitar. Gangguan pendengaran ini tidak langsung terjadi pada anak tetapi merupakan akumulasi dalam kurun 10-20 tahun mendatang. Saat ini penggunaan headphones sudah mulai digantikan oleh earphones yang mempunyai 7-9 desibel lebih tinggi.

Intensitas dan volume penggunaan handphone, iPod, MP3 Player, tablet, serta gadget lainnya yang disertai dengan penggunaan earphone memang berperan dalam munculnya gangguan pendengaran. Suara dengan tingkat kekerasan mencapai lebih dari 90 Desibel mulai membuat kerusakan permanen pada bagian koklea (saluran tulang yang membentuk telinga bagian dalam, yang di dalamnya terdapat sel indera pendengar) dalam waktu 75 menit saja.

Agar anak tidak mengalami gangguan pendengaran akibat gadget, penggunaan gadget harus dibatasi. Biasakan untuk melepas earphonesnya saat tidur dan ketika sedang berbicara dengan orang lain. Setel volume control hanya sampai batas 60% dari kapasitas maksimal volume iPod atau MP3 player, dan batasi penggunaanya maksimal lebih dari 60 menit setiap hari. Aturan ini dikenal dengan rule 60/60.

Tes pendengaran juga perlu dilakukan setahun sekali, untuk mengecek kondisi sistem pendengaran anak, sehingga antisipasi bisa segera dilakukan jika memang terjadi kelainan yang mungkn tidak dirasakan oleh anak.

Pada tahun 2013, penelitian ribuan anak sekolah dasar di Australia memperlihatkan adanya peningkatan risiko terjadinya gangguan pendengaran ringan hingga sedang sebesar 70% akibat maraknya penggunaan earphones pada gadget ini. Di India dari 3000 remaja yang mendengarkan musik 6-8 jam sehari, 66% selalu mendengarkan musik melalui gadget, 8% mengalami gangguan pendengaran temporer, 9.7% mempunyai sensasi berdengung pada telinga, 4.5% merasakan sensasi “blocking”, 5.6% rasa berat di telinga, 7% iritasi pada telinga, 13.4% sakit kepala setelah mendengarkan musik.

Untuk melindungi telinga dari gangguan pendengaan selain mengikuti aturan di atas sebaiknya konsumsi pula makanan yang kaya karoten seperti ubi dan vitamin E yang banyak pada almond. Konsumsi rutin yang dilakukan selama 2 tahun terbukti menurunkan risiko gangguan pendengaran hingga 47%. Selain itu omega-3 yang terdapat dalam salmon juga dapat menurunkan risiko hingga 42%. Vitamin C yang mengandung anti oksidan tinggi digunakan untuk perbaikan sel rambut pada koklea dan meningkatkan sistim imun dalam melawan infeksi. Penggunaan bersama vitamin A, C, E dan magnesium dapat menurunkan gangguan pendengaran hingga 80% pada paparan suara tinggi. 

Vitamin E berguna pada perbaikan sirkulasi, banyak terdapat pada almond, minyak biji bunga matahari dan minyak dari kacang. Vitamin D untuk kekuatan tulang telinga bagian dalam, dapat ditemukan pada susu dan ikan laut seperti salmon, tuna dan makarel. Vitamin B12, asam folat dan magnesium untuk pencegahan bunyi berdengung pada telinga, dan pencegahan kehilangan pendengaran pada usia lanjut, terdapat pada biji bunga matahari, almond dan bayam. Asam lemak alfa sebagai enzim dan katalisator baik bagi saraf pendengaran, ada pada bayam, ubi dan brokoli. Kalium yang banyak terdapat pada pisang, apricot, melon, jeruk dan bayam melindungi pendengaran dari suara bising.

3. Kekakuan otot dan nyeri tulang

Kekakuan otot dan nyeri tulang adalah dampak  yang paling sering dirasakan oleh anak apabila terlalu lama menggunakan gadget, terutama saat bermain game pada anak atau chatting pada remaja. Kekakuan otot dan nyeri tulang ini jenisnya sangat bermacam-macam tergantung dari jenis gadget yang digunakan. 

Misalnya pada anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain Nintendo, akan menderita nintendiitis, yaitu bengkak pada ibu jari, rasa kebal dan dapat mempengaruhi saraf, tendon, ligamen pada tangan. Masalah seperti ini juga dapat timbul pada mereka yang sering menggunakan gadget untuk chatting (Blackberry thumb). Lain halnya dengan wiiitis yaitu masalah cedera yang hampir menyamai cedera yang disebabkan oleh sport dan tergantung dari permainannya, misalnya “tennis elbow” yaitu nyeri pada sendi siku atau “bowling shoulder” nyeri pada sendi bahu.

Sedangkan pada anak yang sering menggunakan tablets, umumnya mereka akan mengalami kekakuan otot sendi leher dan tulang belakang karena selalu menundukkan kepala dan membungkuk saat menggunakan gadget. Hal ini dapat merubah postur tubuh anak dan mengganggu pertumbuhan tulang.

Di Inggris, telah dilakukan penelitian terhadap 200 pasien usia 7-18 tahun yang selalu menggunakan komputer dan tablet setiap harinya dengan posisi yang tidak natural dan didapatkan 64% menderita nyeri leher dan tulang belakang.

Untuk mencegah hal ini, disarankan agar selalu mengubah posisi, bangun dan beristirahat sejenak hingga rasa pegal berkurang. Perhatikan postur tubuh saat menggunakan gadget, untuk tablet sebaiknya diletakkan di atas meja dengan sandaran khusus, saat menggunakan ponsel untuk membaca teks atau bermain game posisi kepala sebaiknya hanya menunduk 150. Hal ini cukup sulit diterapkan pada anak.

Bila terdapat keluhan seperti ini, batasi segera penggunaan gadget. Selain itu, dapat dilakukan pijatan ringan pada tempat yang nyeri agar kekakuan otot segera mengendur, bila saat diraba tempat yang nyeri terasa lebih panas, kompreslah dengan es.

Nutrisi terpenting untuk perbaikan otot dan tulang adalah protein yang mengandung asam amino esensial. Nutrisi ini banyak terdapat pada susu, yogurt, telur, keju, produk kedelai, ayam, ikan dan daging. Jangan lupa untuk minum banyak air karena dalam keadaaan dehidrasi, proses perbaikan otot dan tulang akan menjadi lambat.

 

4. Obesitas / kurang gizi

Jumlah penderita obesitas pada anak sudah berlipat ganda pada anak dan tiga kali lipat pada remaja sejak 30 tahun terakhir. Di Amerika, anak usia 7-11 tahun yang menderita obesitas meningkat dari 7 pada tahun 1980 menjadi 18% pada tahun 2010. Pada remaja usia 12-19 tahun juga meningkat dari 5% menjadi 18% pada periode yang sama. Di Indonesia, prevalensi obesitas anak 5-15 tahun adalah 8,3%. Salah satu penyumbang penyebab keadaan obesitas adalah hadirnya gadget dalam keseharian kita.

Anak usia 8-18 tahun rata-rata menghabiskan waktu 7,5 jam per hari dalam menikmati media elektronik termasuk televisi, komputer, video game, ponsel dan menonton film. Anak usia 6 bulan hingga 6 tahun rata-rata menonton televisi dan bermain gadget selama 2 jam per hari. Hal ini menyebabkan anak menjauh dari aktifitas fisik dan memilih untuk makan serta menikmati kudapan sambil bermain menikmati gadgetnya. Selain itu, iklan tentang makanan cepat saji dan kudapan yang kurang sehat sangat mudah mempengaruhi anak sehingga anak lebih cepat menderita obesitas.

Sedangkan pada anak dan remaja perempuan, kejadian kurang gizi akibat gadget ini lebih mencolok. Anak perempuan memilih untuk melewatkan waktu makan karena mereka terlalu asyik bermain gadget, selain itu maraknya iklan-iklan di internet tentang obat pelangsing tubuh dan model-model yang berbadan langsing memacu anak-anak perempuan untuk melakukan diet ketat hingga melakukan bulimia dan tidak jarang terjadi anoreksia. 

Kelainan pola makan pada remaja semakin meningkat, saat ini 1 dari 4 remaja perempuan mengalaminya dan hampir 80% pernah mencoba atau sedang dalam diet dan 50% diantaranya telah mencoba diet sejak mereka berusia 14 tahun. Onset dari bulimia dan anoreksia ini semakin muda dengan bertambah mudahnya akses internet melalui gadget. Dari 50% dari anak perempuan dan 30% anak laki-laki usia 8-10 tahun, sudah merasa tidak nyaman dengan ukuran tubuhnya. Delapan puluh persen anak di Amerika usia 6-8 tahun sudah mempunyai keinginan untuk lebih kurus.

Oleh karena itu orangtua diharapkan dapat lebih sering mendampingi anak dalam menggunakan gadgetnyam turut memilih dan memilah program, tontonan serta game yang cocok untuk anak dan memberikan pengertian serta pengarahan yang baik dan benar.

 

5. Asma

Anak pecandu gadget biasanya lebih sering berada di dalam ruangan dan tidak melakukan aktifitas fisik dan memainkan gadget sambil memakan kudapan. 

Dari 18 sekolah yang diteliti di Inggris, pada anak usia 10-12 tahun yang memainkan gadget, 23.7% menderita serangan asma. Dari yang menderita asma, ternyata 48%nya selalu mengkonsumsi kudapan asin lebih dari 1 kali per minggu. Pada anak yang memainkan video game, menonton televisi atau gadget selama12 jam per minggu, kemungkinan terkena serangan asma 4 kali lipat lebih besar dan jumlahnya meningkat 2 kali lipat dalam setahun.

Lebih seringlah mengajak anak untuk mempunyai kegiatan di luar rumah bersama (outdoor)

 

6. Kerusakan kulit

Seberapa seringkah kita membersihkan gadget kita termasuk di dalamnya ponsel, tablet, MP3 player, video game player, stick nintendo, dll? Tangan yang kita gunakan untuk memegang gadget kita tersebut adalah media yang baik untuk perpindahan kuman. Selain itu ponsel yang  kita tempelkan ke telinga dan wajah kita juga dapat menyebabkan masalah kulit seperti jerawat, biang keringat ataupun alergi, terutama pada mereka yang alergi pada bahan nikel yaitu bahan yang terdapat pada ponsel dan tombolnya.

Penelitian di Inggris dari bagian depan posel mendapatkan 217 bakteri per inci persegi dan 16% di antara ponsel tersebut mengandung bakteri dari tinja. Dikatakan juga bahwa ponsel tersebut 18 kali lebih kotor dari penyiram kloset dan patut juga diketahui bahwa bakteri tersebut dapat berkembang biak.


Solusi : Jika Anda rentan terhadap alergi kulit, lebih baik gunakan kit hands-free atau bersihkan layar telepon menggunakan larutan garam secara perlahan.

 

KESIMPULAN

Setelah melihat dampak baik dan dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari pemakaian gadget dalam kurun waktu lama bagi anak, maka sebaiknya gadget tidak diberikan pada anak di bawah 2 tahun, batasi pemakaian gadget termasuk menonton film dan televisi maksimum 2 jam per hari. Dampingi selalu anak-anak anda semaksimal mungkin dalam memilih program televisi, video game, sosial media, melihat iklan, memilih lagu serta jangan bosan untuk menjelaskan tentang apa yang mereka lihat dan dengar. Permainan yang melibatkan teman dan keluar tanpa gadget masih merupakan pilihan terbaik dalam merangsang kognitif dan sosialisasi anak. Perhatian jarak pandang ke layar gadget, volume suara gadget dan postur tubuh saat menggunakan gadget agar tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Berikan nutrisi terbaik bagi anak anda agar dapat terlindung dari efek samping yang dapat ditimbulkan dari pemakaian gadget dan jaga kebersihan gadget anda.

 


 

 

 

Kontak Cepat